Sabtu, 15 Februari 2014
Sepenggal cerita anak BROKENHOME
Kali ini gua bakal post cerpen” yang udah gua buat selama ini, cerpen pertama gua ini terinspirasi dari temen gua langsung aja dibaca cerpennya.
teringat 16 tahun silam, seorang anak laki-laki kecil
dipaksa melihat adegan yang sungguh mengerikan, yah pertengkaran orang tuanya.
teringat di malam itu dia sedang asik bermain, sang ibu sedang menonton
televisi sedangkan sang ayah ntahlah dia tak ingat kemana ayahnya selama ini,
yang dia tau saat dia menanyakan keberadaan sang ayah sang ibu langsung
menyuruhnya pergi kerumah nenek dan bertemu sang ayah, sehingga bocah berumur 4
tahun itu tidak menganggap ada sesuatu yang serius antara kedua orang tuanya.
namun malam itu malam yang membuat traumatik bagi sang bocah, dia ingat malam
itu ayahnya mengedor pintu minta dibukakan, tiba2 sang ibu datang dan langsung
berteriak-teriak. saat itu dia tidak jelas mendengar apa yang diteriakkan,
karena dia senang ayahnya pulang namun tiba-tiba dia juga keherannan melihat
aksi yang dilakukan sang ibu. saat itu sang nenek yang membukakan pintu rumah,
jelas sekali bocah itu langsung berlari menyambut sang ayah, namun ayahnya
tidak langsung memeluknya dia menjawab apa yang sang ibu teriakkan, dan
akhirnya terjadlah pertengkaran itu. sang bocah 4 tahun itu dipaksa melihat
adegan yang sangat membuatnya bingung, sedih, dan bertanya-tanya. sambil
berlari dia memegang bola mengikuti alur sang ayah dan ibunya. dan saat itu dia
menangis ketika melihat sang ayah yang menghalangi sang ibu untuk menusukkan
gunting ke perutnya sendiri, bocah itu berteriak-teriak sampai ada seseorang
yang mengambilnya saat itu, terlambat memang bocah itu sudah terlanjur melihat
banyak adegan yang sangat terpetakan jelas di setiap hari-harinya. hari dimana
terus ingin bocah itu lupakan namun tidak bisa karena itu adalah adegan yang
benar2 pertama kali dirasakan olehnya.
hari-hari setelah itu sang ibu mengajaknya ke suatu tempat,
seperti perkantoran, namun sang bocah tidak tau kantor apa itu, dia hanya
menemani sang ibu saat itu, ibu yang sangat dia sayangi, sesekali dia bertanya
dimana sang ayah dan tidak dijawab oleh ibunya dan bocah itu kembali diam.
bulan-bulan setelah itu tiba-tiba dia diberitahu bahwa
ayahnya harus bekerja di tempat yang sangat jauh, BATAM, sebuah kota yang
menjadi tujuan sang ayah, bocah yang tidak mengerti apa-apa itupun hanya
mengiyakan kepergian sang ayah tanpa tahu sebenarnya sejak saat itu dia tidak
bisa merasakan kasih sayang sang ayah.
tahun-tahun setelah itu, tepatnya 13 tahun setelah itu,
bocah ini sudah berada di sma, mendapati teman-teman baru, tak ada masalah
sebelumnya tentang absennya sang ayah didalam hidupnya, namun bocah ini menjadi
pemikir bahwa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya, dia mencari, berpikir, merenung,
mencoba mengetahui apa yang terjadi, dan dia ingat malam itu dan baru dia
sadari bahwa saat itu orang tuanya memutuskan untuk bercetrerai, bahwa saat di
perkantoran itu adalah sebuah pengadilan tempat orang tuanya bercerai, dan dia baru menyadari karakter
yang ada pada dirinya sangat rapuh karena hidup tanpa didikan sang ayah. dia
sadar bahwa dirinya berbeda, kadang dia bertanya kenap harus bercerai kepada
sang ibu, kadang dia menyesali mengiyakan kepergian ayahnya, kadang dia
menyesali bahwa dia telah mengantar ibunya ke pengadilan dulu, coba saat itu
dia sudah mengerti tentang ini mungkin dia akan menentang sekuat tenaga,
mungkin dia tidak akan merelakan keputusan orang tuanya ini. karena
sesungguhnya tidak enak menjadi anak seorang single parent. dimana-mana orang
tua itu ada dua, dan dua2nya yang menentukan pembentukan sifat sang anak.
yah bocah itu sekarang telah menempuh kehidupan
perkuliahannya, bocah itu hanya bisa mengikhlaskan apa yang terjadi walau
kadang sangat sulit menerina….
sangat sulit masa2 kecilku dulu, disaat anak-anak lain
merasakan kasih sayang kedua orangtuanya aku harus melihat pertengkaran, disaat
anak-anak lain belajar mengaji dengan sang mama, membaca oleh sang ayah,
berekreasi bersama, aku tidak kawan, ibuku harus bekerja untuk menghidupi aku
dan kakau karena kiriman uang ayahku tidak mencukupi, aku belajar baca oleh
orang yang menumpang dirumahku dulu bukan oleh orang tuaku, aku belajar ngaji
dipengajian-pengajian, dan aku jarang berekreasi. oleh karena itu kalian yang
mempunyai orang tua yang utuh jagalah mereka, kasihi dan berbaktilah, dan
kalian yang bernasib sama denganku terimalah dengan lapang, wlau itu sulit
tetap sayangi mereka dan yakinlah bahwa keputusan mereka dulu memang keputusan
yang terbaik.
mah,yah aku sangat sayang sama kalian dan sebenernya aku
selalu mengharapkan hal yang ga mungkin terjadi yaitu kalian bisa balikan lagi,
tapi aku sadar itu ga mungkin. tapi sulit dan sangat berat untuk menjalani hal
ini. aku ingin ayah dan aku ingin mamah. aku ingin kalian..
sekian cerpen pertama gua, nantikan cerpen berikutnya :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar